Beyond The Major Art
Beyond The Major Art
Komik
(Bagian dari laporan penelitian I Wayan Nuriarta tentang Komik Naruto)
Istilah komik berasal dari bahasa Inggris comic yang berarti cerita atau buku komik, yang bersifat gembira (Echols dan Shadily, 1990:129), cerita bergambar yang lucu (Wojowasito, 1985;75). McCloud (2001) dalam buku Understanding Comics yang unik, karena disusun dalam gaya penceritaan buku komik, gambar-gambar serta lambang-lambang dan narasi disusun sebagaimana dalam sebuah format buku komik (McCloud, 2001;9)
Pada dasarnya, komik merupakan karya seni perpaduan antara seni rupa dengan karya sastra, yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk visual atau gabungan bentuk visual dengan keterangan verbal. Oleh karena itu komik sering dianggap sebagai karya sastra bergambar, dan untuk membedakan komik bersambung dengan komik lengkap, ungkapan Ingris Co-mic-strips dan Comic-book praktis untuk digunakan karena tidak menimbulkan kekaburan makna. Comic-strips merupakan komik bersambung yang dimuat pada surat kabar, sedangkan comik-book atau buku komik adalah kumpulan cerita bergambar yang terdiri dari satu atau lebih judul dan tema cerita.
Manga
Secara umum manga diartikan sebagai komik made in Japan. Manga bukan lagi menjadi sesuatu hal yang asing bagi generasi muda dan anak-anak pencinta komik dan animasi. Manga sebagai bentuk kesenian visual dari Jepang tidak hanya memiliki kualitas gambar yang baik dan unik, namun juga sangat ditunjang dengan kekutan dan keragaman cerita yang menarik. Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang. Kata manga digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama Hokusai Katsushika (1760-1849) dan berasal dari dua huruf Cina yaitu kata manga yang artinya gambar manusia untuk menceritakan sesuatu. Manga pertama kali muncul pada abad ke-18 dengan buku komik yang berjudul ‘Kibyoushi’. Dalam sejarah manga, yang tidak boleh dilupakan adalah peranan Osamu Tezuka yang dikenal sebagai “God
of Manga”. Tetsuwan Atom adalah manga karya Osamu Tezuka yang terkenal dan mendunia baik sebagai manga maupun anime atau kartun Jepang.
Ada delapan teknik bercerita manga, menurut McCloud dalam bukunya “Membuat Komik” ( 2008 : 215 ), yaitu:
1) Wajah Wajah dan figur-figur digambarkan secara sederhana emotif yang memancing identifikasi pembaca. Penggambaran wajah dan figur dibuat secara sederhana tanpa detail. Misalnya hanya dengan garis dan blok hitam, tapi dengan mudah dapat mengenalinya sebagai wajah manusia, wajah laki-laki atau perempuan.
2) Kesan Tempat yang Kuat Rincian lingkungan yang dipicu ingatan indrawi dan ketika dipertemukan dengan karakter ikonik akan memancing “efek masking” yang artinya dalam frame akan tampak gambar yang kurang menyatu karena terlihat perbedaan antara latar belakang dengan gambar tokoh. Latar belakang biasanya digambarkan dengan realis dan tokoh dalam kartun yang sangat sederhana.
3) Frame Bisu Penggunaan panel bisu dipadukan dengan transisi aspek ke aspek mendorong pembaca menyusun keinginan untuk memperoleh informasi rupa dari setiap adegan.
4) Gerak Subjektif Menggunakan latar yang kurang jelas atau mengganti latar dengan efek garis sehingga pembaca merasa bergerak bersama karakter dalam komik tersebut.
5) Kematangan Genre Pemahaman cara bercerita yang unik mendorong terciptanya ratusan genre seperti fiksi ilmiah, fantasi, horor, komedí, detektif dan sebagainya.
6) Rancangan Karakter Rancangan karakter yang sangat beragam, menampilkan tipe wajah dan tubuh yang berbeda serta asesoris yang dengan mudah dapat kita kenal. Misalnya dengan perbedaan warna rambut, sensata yang dibawa setiap tokoh, dan jenis pakaian yng digunakan.
7) Rincian Dunia Nyata Dibuat sampai ke hal-hal yang kecil. Sebuah apresiasi untuk sebuah keindahan untuk hal yang remeh dan kaitannya dengan nilai-nilai pengalamann sehari-hari. Bahkan dalam cerita fantastis atau melodramatik.
Efek Ekspresif Emosional Efek ekspresif emosional yang beragam seperti latar ekspresionistis, karikatur subjektif dan montase, semua menyediakan jendela bagi pembaca untuk melihat yang dirasakan karakter.
Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang. Kata “manga” digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama Hokusai. Sebelum orang mengenal manga, pada abad pertengahan di Jepang sudah dikenal seni menulis cerita disertai lukisan untuk menggambarkan jalannya cerita. Seni menulis cerita disertai lukisan untuk menggambarkan cerita itupun belum berbentuk buku, tapi masih dalam bentuk gulungan kertas yang disebut emakimono. Manga artinya kira-kira gambar manusia untuk menceritakan sesuatu.
Manga merupakan istilah untuk komik Jepang. Manga pertama diketahui dibuat oleh Suzuki Kankei tahun 1771 berjudul Mankaku Zuihitsu. Berikutnya terbit Shiji no yukikai oleh Santo Kyoden (1798). Namun ada juga yang menyebut manga pertama kali muncul abad 12. Manga tersebut berisi kisah lucu tentang hewan dan dibuat oleh banyak seniman.
Di Indonesia sendiri, kehadiran manga di berbagai kios dan toko buku telah mendominasi komik-komik negara lain. Berdasarkan pengamatan umum , lebih dari 60 % komik yang dijual di toko buku adalah manga, sedangkan selebihnya adalah komik-komik Amerika, Indonesia , Korea, dan lainya.(http:// www. Komik.com, download 4 agustus 2008 )
Perubahan drastis pada komik Jepang dimulai dengan penerbitan majalah Shonen Sunday dan Shonen Magazine untuk anak-anak pada tahun 1959. Masyarakat Jepang saat itu telah terbiasa dengan serial drama panjang yang diputar setiap minggu, dan kebiasaan baru ini diaplikasikan dalam format manga. Komikus mulai membuat serial komik menjadi panjang yang dapat diperpanjang jika kemudian menjadi populer, langkah yang kemudian munculnya majalah komik mingguan. Mingguan ini pula yang `memaksa’ mangaka untuk melakukan inovasi dalam tek-nik dan lambat laun mengubah gaya gambar komikus menjadi gaya manga seperti yang dikenal pada saat ini.
Jenis-jenis manga yaitu:
Shoujo Manga Shoujo manga yaitu manga yang lebih diperuntukkan bagi anak perempuan. Jepang adalah negara pertama yang memelopori lahirnya komik khusus untuk kaum hawa dan satu-satunya di dunia yang perkembangan komik perempuannya sangat maju.
Di negara-negara Barat, komik selalu dianggap sebagai boy’s stuff sehingga tidak pernah ada inisiatif untuk membuat komik perempuan. Lagi-lagi kita penggemar manga, terutama shoujo, harus berterima kasih pada Tezuka sensei. Dulu shoujo manga hanya dibuat dalam bentuk komik strip dengan kisah sederhana yang lebih bersifat humor. Kemudian Tezuka mempelopori shoujo manga yang lebih panjang dan menggunakan teknik ilustrasi yang lebih menarik serta mengkombinasikan tema petualangan, tragedi dan humor dalam karyanya yang berjudul Ribon no Kishi (Knight of Ribbon) yang diterbitkan pada tahun 1954.
Shoujo manga terbit dalam majalah bulanan shoujo seperti Ribon dan Nakayoshi. Tetapi mayoritas manga-kanya adalah manga-ka pria yang juga mengarang komik untuk majalah shounen. Sebelum tahum 1960 manga-ka wanita masih sangat jarang. Tema shoujo manga waktu itu masih berkisar pada anak sekolahan atau hubungan ibu anak dengan nuansa komedi, horor atau tragedi yang membuat pembacanya meneteskan air mata. Belum ada kisah percintaan romantis seperti sekarang.
2. Shounen Manga Shounen manga adalah manga yang lebih dikhususkan untuk pembaca laki-laki. Ceritanya berkisar pada hal-hal yang disukai laki-laki, seperti olahraga atau petualangan seru penuh aksi. Popularitas shounen manga berawal dengan terbitnya dua mingguan shounen pada tahun 1959, yaitu Weekly Shounen Magazine (penerbit Kodansha) dan Weekly Shounen Sunday (penerbit Shogakukan).
Keduanya adalah majalah shounen pertama yang terbit seminggu sekali sebab sebelumnya majalah anak-anak selalu terbit bulanan. Isi kedua majalah ini awalnya sama saja dengan majalah Bobo ( majalah anak-anak terbitan PT Gramedia, Jakarta) yang isinya berupa informasi, pengetahuan, dan hiburan berupa manga.
Shounen manga mengadaptasi gaya gekiga untuk mempertahankan pembaca yang mulai tumbuh dewasa. Sedangkan gekiga yang bernuansa suram dan serius diubah menjadi lebih cerah dengan humor khas shounen manga. Tetapi perubahan ini justru menyebabkan Shounen Magazine dan Shounen Sunday ditinggalkan oleh pembaca cilik mereka yang kemudian memilih membaca Weekly Shounen Jump (penerbit Shueisa) yang tetap mempertahankan gaya shounen manga murni.
Para manga-ka terkenal itupun tidak mau kreativitasnya didikte. Mulai tahun 70-an, Jump berhasil mengumpulkan lebih banyak pembaca daripada Shounen Magazine dan Shounen Sunday. Setiap tahunnya oplah Jump meningkat terus hingga jutaan eksemplar per tahun. Hingga kini Shounen Jump merupakan majalah shounen terpopuler di Jepang dan sudah menerbitkan manga-manga keren seperti Dragon Ball karya Akira Toriyama, Slam Dunk karya Inoue Takehiko dan Rurouni Kenshin-nya Watsuki Nobuhiro. ( http://www.JenisManga.com, download: 19 Oktober 2008).
3. Doujinshi Manga Doujinshi adalah manga, tetapi kisah-kisah doujinshi lebih banyak dibuat berdasarkan cerita manga yang sudah ada dan dibuat oleh penggemarnya. Jadi bisa dibilang, doujinshi adalah fanfic dalam bentuk komik. Orang yang membuat doujinshi disebut doujinshika.
Awalnya yang membedakan doujinshi dengan manga adalah doujinshi dibuat oleh komikus amatir. Kisahnya juga bukan berdasarkan manga karangan orang lain, tapi karya orisinil sang komikus. Tapi kemudian muncul doujinshi yang dibuat oleh mangaka profesional (biasanya memakai nama samaran) berupa parodi atau side story dari manga karangannya. Hal ini lantas diikuti oleh para penggemar manga. Sama seperti fanfic, biasanya mereka membuat kelanjutan dari manga yang sudah tamat, ending yang berbeda atau jalan cerita lain sesuai dengan kehendak hati mereka. Dan tidak sedikit para doujinshi-ka yang gambarnya mirip dengan manga aslinya.
Doujinshika belum ada yang menyebarkan manga dalam bentuk tankôbon (yang dikenal dengan istilah volume). Biasanya para doujinshika mengirimkan hasil karyanya untuk dimuat dalam majalah-majalah bertemakan anime. Majalah anime di Jepang sedikit demi sedikit mulai memuat berita tentang acara cosplay di pameran dan penjualan terbitan dōjinshi. Liputan besar-besaran pertama kali dilakukan majalah Fanroad edisi perdana bulan Agustus 1980.
TEKS VISUAL KOMIK NARUTO
Pelukisan Adegan Naruto adalah manga karya Masashi Kishimoto. Bercerita seputar kehidupan tokoh utamanya, Naruto Uzumaki, seorang ninja remaja yang penuh semangat, hiperaktif, dan pantang menye-rah; dan petualangannya dalam mewujudkan keinginan untuk mendapatkan gelar Hokage, ninja terkuat di desanya.
Naruto adalah manga yang paling terkenal dan naik daun di seluruh dunia. Sejak awal penerbitannya, Naruto telah memancing permunculan ribuan situs berisi informasi rinci, panduan, dan forum internet tentang manga ini. Beberapa situs terkenal muncul setelah versi Inggrisnya diterbitkan pada bulan Agustus 2003. Selain itu, muncul pula situs-situs yang menyediakan manga versi Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Cara Baca Komik Naruto Pada cara membaca, ukuran frame memberikan jeda dan menentukan urutan membaca komik Naruto. Jika ada frame yang memiliki ukuran sama, maka frame dibaca berurutan baik yang terjadi secara vertikal maupun horisontal sebelum pindah ke frame dengan ukuran yang berbeda. Teknik membacanya tetap menggunakan pola dari kanan ke kiri dan dari atas ke bawah.
Nugroho (wawancara: 1 Desember 2008) mengatakan, manga Naruto diterbitkan karena manga ini memiliki gambaran secara visual yang sangat menarik, tokohtokohnya memiliki karakter tersendiri sesuai dengan sifatnya. Meskipun cerita karya Masashi Kishimoto ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, namun cara membacanya masih tetap menunjukkan cara membaca tulisan Jepang yaitu dibaca dari arah kanan ke kiri dan dari arah atas ke bawah seperti teknik menulis dan membaca bahasa Jepang Hiragana atau Katakana. Hal ini dilakukan selain untuk memperlihatkan komik ini yang sedikit berbeda dari komik lain, juga bertujuan agar tidak terjadi gambar flipping atau disebut pembalikan gambar.
Seni Jalanan (Street Art)
(Sebagian laporan penelitian I Nyoman Mahayasa tentang Grafiti di Denpasar)
Seni jalanan atau biasa disebut juga street art kemudian muncul menjadi istilah yang dipakai untuk membedakan dengan karya seni yang dibuat dan ditempatkan dijalanan dengan meminta ijin kepada pihak yang berwenang. Seni jalanan merupakan perkembangan dari grafiti yang biasa di buat dengan cat semprot (aerosol) kemudian berkembang menggunakan berbagai teknik pembuatan misalnya: stensil, stiker, tempelan kertas/ whet pasting, poster atau campuran dari berbagai bentuk seni. Penempatanya dilakukan tanpa ijin dari pihak berwenang dan dilakukan dengan sengaja (misalnya: gerbong kereta, pos polisi, papan reklame dan lain-lain) terkadang memicu timbulnya perkara. Perkara inilah yang sering pelaku seni jalanan dianggap sebagai pelaku vandalisme.
Kata “jalanan” pada kata seni jalanan bukan sekedar menunjukkan tempat tetapi lebih menekankan kepada kebebasan sebab jalanan memiliki sifat longgar yang memungkinkan kebebasan berlangsung. Apakah itu dalam kebebasan berpendapat, seni, maupun kebebasan bertingkah laku. Jalanan telah menjadi tempat dimana orangorang memiliki kesempatan untuk menunjukkan rasa kemanusiaan dan kebinatangannya yang tersembunyi. Di jalan raya, misalnya, pengendara berubah menjadi “binatang” yang saling berebut kesempatan menyalip tanpa aturan, bahkan dapat mencelakakan orang lain. Kepatuhan terjadi jika ada polisi disekitarnya, bukan karenakesadaran tentang keselamatan dirinya maupun orang lain.(Syamsul Barry, 2008:30)
GRAFITI
Grafiti Menurut kamus Oxford Advanced learner’s Dictionary (A S Hornby, 2000:559).“ Graffiti is drawing or writing on a wall or in public place that they are usuaaly rude, humorous or political”. Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa seni grafiti merupakan kegiatan menulis atau menggambar pada tembok atau media lainnya di tempat umum yang biasanya kasar, lucu atau mengandung unsur politik. Alat yang digunakan biasanya cat semprot kaleng.
Grafiti (juga dieja grafitty atau grafitti) adalah kegiatan seni rupa yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan kalimat tertentu di atas dinding. Alat yang digunakan biasanya cat semprot kaleng. Menurut Wikipedia (n.d., 19 Januari 2007), graffti adalah salah satu tulisan ataupun penanda yang dengan sengaja dibuat oleh manusia pada suatu permukaan benda, baik itu milik pribadi ataupun publik. Sebuah graffti dapat berupa sebuah karya seni, gambar ataupun katakata. Ketika suatu graffti dikerjakan tanpa sepengetahuan pemilik properti, maka graffti tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah vandalisme. Graffti sendiri telah ada paling tidak sejak peradaban kuno seperti zaman Yunani Klasik dan Kerajaan Roma.
Grafiti sendiri berasal dari bahasa Itali yaitu “graffito” dan akhirnya populer dengan sebutan grafiti. Tidak ada yang mengetahui secara jelas kapan seni yang satu ini mulai populer di dunia, yang jelas beberapa bukti menunjukan bahwa grafiti sudah ada pada masa pemerintahan kerajaan Roma. Grafiti pun mulai mengalami perubahan dari masa ke masa dan akhirnya sekarang lebih kita kenal dengan modern grafiti. Di beberapa negara grafiti menjadi sebuah hal yang melanggar hukum, di Indonesia sendiri belum jelas pasal-pasal mengenai hal yang satu ini. Jika para bomber tertangkap tangan, mereka hanya harus menghapus karya mereka tersebut. Grafiti sendiri bisa menjadi sarana para bomber untuk menyuarakan jiwa sosial mereka. Namun kini grafiti justru lebih condong sebagai salah satu bentuk kreativitas dalam hal seni.
SEJARAH GRAFITI
Grafiti di Pompeii di atas mengandung tulisan rakyat yang menggunakan bahasa Latin Rakyat dan bukan bahasa Latin Klasik. Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa ini, grafitty digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu. Perkembangan kesenian di zaman Mesir kuno juga memperlihatkan aktivitas melukis di dinding-dinding piramida. Lukisan ini mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang pharaoh (Firaun) setelah dimumikan. Kegiatan grafiti sebagai sarana menunjukkan ketidak puasan baru dimulai pada zaman Romawi dengan bukti adanya lukisan sindiran terhadap pemerintahan di dinding-dinding bangunan. Lukisan ini ditemukan di reruntuhan kota Pompeii. Sementara di Roma sendiri dipakai sebagai alat propaganda untuk mendiskreditkan pemeluk kristen yang pada zaman itu dilarang kaisar. (http://id.wikipedia.org/wiki/Grafiti, diakses 14 April 2007).
Di indonesia, menurut Soedarso seperti yang dikutip Syamsul Barry (2008:31), goresan gambar yang tertua ditemukan di dinding gua Pattae Kere, yang terletak di daerah Maros, sulawesi selatan( kebudayaan Toala, Mesolitikum, c.4000 tahun yang lalu). Gambar pada gua itu sangat berbeda dari gambar hiasan dinding buatan jaman purba yang biasanya bertujuan untuk memperindah tempat tinggal manusia yang mendiaminya . Gambar tersebut bermakna lebih dalam, yaitu mengandung pesan pengharapan (wishful painting).Terlepas dari tujuan pembuatanya, (goresan) gambar pada gua itu dapat dikatagorikan sebagai grafiti.
Dinding memang menjadi satu media utama bagi para bomber. Permukaan yang luas dan datar menjadi salah satu alasanya. Aktifitas menulis di dinding sudah menjadi satu budaya sejak jaman primitive. Digunakan sebagai sarana komunikasi, bahkan juga digunakan untuk menggambarkan mistisme dan spiritual manusia pada massa itu. Tentu saja berbeda alasanya, kenapa pada masa primitive, dinding digunakan sebagai medianya. Kain atau kulit tentunya lebih penting digunakan sebagai pelindung tubuh, daripada untuk dicorat-coret. Materi yang digunakan untuk mencorat-coret pun juga sangat sederhana. Arang, kapur atau batu adalah salah satu bahan materi, dengan objek yang umumnya menggambarkan binatang atau gambar tentang perburuan. Namun dibalik kesederhanaan dari grafiti pada masa itu, baik materi dan medianya, bahkan juga tujuanya. Tetapi telah menyumbangkan satu bentuk catatan sejarah yang menggambarkan kondisi dan perilaku sosial pada masa itu. Mewariskan satu bentuk ekspresi seni, ternyata juga ditinggalkan oleh grafiti-grafiti, yang kemudian sampai sekarang ini hal tersebut masih dilakukan.
Perkembangan zaman dan perubahan tatanan masyarakat ternyata memberi dampak yang cukup besar bagi perkembangan seni grafiti. Yang awalnya hanya sebagai satu media komunikasi, lambat laun berkembang menjadi satu media perlawanan dan protes. Mulai terpisahkannya masyarakat dalam bentuk kelas-kelas, dan membuat satu kelas tertentu merugikan kelas yang lain. Karena perlawanan secara fisik dari golongan yang lemah dirasa dan secara nyata sering mengalami kekalahan, maka pada akhirnya grafiti muncul sebagai satu bentuk perlawanan baru dari kelas atau golongan yang kalah. Tak sekedar sebagai bentuk baru dalam perlawanan, grafiti juga menjadi media pembangunan kesadaran akan bagi kelas sosial masyarakat yang tergilas oleh kelas yang lain. Seolah-olah grafiti memberikan kita satu pembelajaran dan ajakan untuk melihat kondisi realitas sosial yang ada, dan tidak diam menghadapi hal itu.
PERKEMBANGAN GRAFITI
Pada perkembangannya, grafiti di sekitar tahun 70-an di Amerika dan Eropa akhirnya merambah ke wilayah urban sebagai jati diri kelompok yang menjamur di perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus, grafiti telanjur menjadi momok bagi keamanan kota. Alasannya adalah karena dianggap memprovokasi perang antar kelompok atau gang. Selain dilakukan di tembok kosong, grafiti pun sering dibuat di dinding kereta api bawah tanah.
Di Amerika Serikat sendiri, setiap negara bagian sudah memiliki peraturan sendiri untuk meredam grafiti. San Diego, California, New York telah memiliki undangundang yang menetapkan bahwa grafiti adalah kegiatan ilegal. Untuk mengidentifikasi pola pembuatannya, grafiti pun dibagi menjadi dua jenis.
- Gang grafiti Yaitu grafiti yang berfungsi sebagai identifikasi daerah kekuasaan lewat tulisan nama gang, gang gabungan, para anggota gang, atau tulisan tentang apa yang terjadi di dalam gang itu.
- Tagging grafiti Yaitu jenis grafiti yang sering dipakai untuk ketenaran seseorang atau kelompok. Semakin banyak grafiti jenis ini bertebaran, maka makin terkenallah nama pembuatnya. Karena itu grafiti jenis ini memerlukan tagging atau tanda tangan dari pembuat atau bomber-nya. Semacam tanggung jawab karya. (http://id.wikipedia.org/ wiki/Grafiti, diakses 14 April 2007).
Grafiti juga memiliki reputasi yang cukup buruk di mata pemerintah hampir di seluruh negara, karena grafiti dituduh sebagai media yang paling frontal untuk menghujat atau pun mengkritik secara keras sebuah pemerintahan di sebuah negara. Walaupun kini banyak grafiti yang telah meninggalkan cara seperti itu, namun tetap saja pemerintah masih banyak yang tidak setuju dengan hal yang satu ini. Bisa dibilang seni ini merupakan sebuah seni yang termasuk kategori underground. Bisa dibilang demikian karena kegiatan ini dilakukan secara diam-diam dan biasanya dilakukan pada malam hari. Membicarakan grafiti dan politik maka tidak akan lepas dengan seorang tokoh yang bernama Alexander Brener. Ialah yang pertama kali membawa politik ke seni, dan ia juga yang pertama kali menyuarakan politik lewat media yang satu ini.
Grafiti sekarang mulai memasuki masa keemasannya, selain di Indonesia sendiri, di Ameri-ka atau tepatnya di Brooklyn Museum sering diadakan pameran grafiti yang kini disebut juga sebagai seni kontemporer. Berbagai bomber profesional seperti Crash, Lee, Daze, Keith Haring dan Jean-Michel Basquiat menjadi pahlawan dalam seni grafiti. Sekitar 22 bomber ikut berpartisipasi dalam pameran ini. Lain di Amerika lain pula di Australia. Negara yang satu ini bahkan menjadikan grafiti sebagai lomba publik yang selalu memiliki jumlah peserta yang sangat banyak. (“Grafiti” di Jalanan Ibu Kota’’, Harian Kompas, Jumat, 29 April 2005).
GRAFITI PADA ZAMAN MODERN
Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu dinding.
Pendidikan kesenian yang kurang menyebabkan objek yang sering muncul di grafiti berupa tulisan-tulisan atau sandi yang hanya dipahami golongan tertentu. Biasanya karya ini menunjukkan ketidak puasan terhadap keadaan sosial yang mereka alami.
Meskipun grafiti pada umumnya bersifat merusak dan menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan kebersihan kota, namun grafiti tetap merupakan ekspresi seni yang harus dihargai. Ada banyak sekali seniman terkenal yang mengawali karirnya dari kegiatan grafiti.
Grafiti memiliki keindahan tersendiri, karena ia hadir dari seni, kebanyakan pelukis grafitti akan mencurahkan isi hati mereka lewat simbol-simbol, kata-kata, bahkan terkesan komikus. Karena ledakan kreativitas, media yang tidak dimaksudkan sebagai ajang seni dapat menjadi ajang seni, dan kehadirannya patut diapresiasi sebagai wujud kreatif dari kelas yang semestinya lebih dihargai dan diarahkan ke hal-hal positif. Keberadaan warna-warna dapat menjadi pengisi kekosongan dalam ruang-ruang publik yang tidak berkepribadian. (http://freemagz.com, diakses 14 April 2007)
Pada masa modern sekarang ini, grafiti pun mengalami satu perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukan satu identitas pribadi, seperti yang dilakukan oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Ia selalu menuliskan namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian membuat Taki menjadi terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak muda disana, yang seperti terinspirasi oleh Taki. Hal ini karena hanya dengan melakukan coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi terkenal. Grafiti juga dilakukan oleh kelompokkelompok tertentu yang sekali lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya.
Mutasi motivasi ini tak bisa kita katakan sebagai sesuatu yang bukan seni. Bukan pembenaran, bahwa seni itu adalah kebebasan. Namun bisa juga kita katakan, kalau corat-coret di tempat umum yang hanya sekedar unutk menunjukan satu identitas saja adalah bentuk seni juga. Walaupun mungkin dalam satu level yang berbeda. (http://www.pysam.com, diakses 14 April 2007).
Antara Seni, Perlawanan dan Vandalisme
Seni adalah satu bentuk ekspresi kreatif manusia. Seni juga sangat sulit diartikan atau dinilai. Setiap individu, baik sang seniman ataupun penikmat seni itu sendiri, bisa membuat satu parameter untuk menentukan nilai dan artian dari sebuah karya seni. Ini menunjukan bahwa kebebasan adalah tuhan dari seni itu sendiri (www.prpindonesia.org - Grafiti Action, diakses 14 April 2007).
Seni dapat diekspresikan dalam berbagai bentuk. Corat-coret di tempat umum yang ha-nya sekedar untuk menunjukan satu identitas saja adalah bentuk seni juga. Sedikit berbeda bentuk dari coretan cat semprot yang dihasilkan oleh pelaku grafiti yang bermotifasi untuk memperkenalkan identitas pribadi atau golonganya, dengan pelaku yang melakukan grafiti sebagai media propaganda atau kritik atas satu kondisi sosial yang ada. Umumnya pelaku grafiti yang menjadikan grafiti sebagai media perlawanan dan penyadaran, dalam grafitinya selalu meninggalkan pesan-pesan bagi orang yang melihatnya. Sehingga hasil dari coretan tersebut pun, bukan sekedar kata-kata atau tulisan. Namun juga banyak menampilkan gambar-gambar, yang kemudian diolah sedemikian rupa, sehingga juga terlihat sebagai sebuah ekspresi kreatif. Kalaupun bentuk penyampaianya hanya berupa tulisan atau coretan, namun ketika coretan tersebut mempunyai makna, pesan atau kritik sosial, maka makna, pesan ataupun kritik sosial dari coretan tersebut adalah sebuah bentuk seni tersendiri. Karena seni itu sendiri, dalam benutknya yang luas akan selalu meningggalkan pesan.
Dan grafiti yang merupakan satu dari sekian banyak farian dalam bidang seni. Namun din-ding dan tempat umum yang digunakan sebagai media seni dari grafiti, membuat banyak orang tidak menganggap itu sebagai seni, melainkan melihat grafiti sebagai sebuah perilaku yang merusak sarana dan kepentingan publik.
Vandalisme, adalah satu stigma yang sering diungkapakan orang terhadap pelaku grafiti maupun grafiti itu sendiri. Pada hakekatnya, vandalisme sendiri merujuk pada perusakan atas barang milik orang lain termasuk juga barang yang diperuntukan untuk kepentingan publik. Namun vandalisme mempunyai aspek emosi dalam melakukanya. Geram dan kesal atau bahakan hanya sekedar untuk melepaskan kebosanan semata, adalah motif dari vandalisme. Jelas memang, ketika merusak kepentingan publik dengan muatan emosi sebagai satu motifasinya, maka bisa kita katakan dia sebagai bentuk dari vandalisme. Berbeda dengan grafiti yang menjadi bagian dari seni, yang lebih menekankan pada unsur penyampaian pesan dan kebebasan berekspresi.
Memang tidak bisa kita jadikan pembenaran, bahwa kebebasan berekspresi bisa disampaikan dengan media apa saja temasuk dinding dan sarana publik sebagai medianya. Namun juga harus kita perhatikan dewasa ini, untuk mendapatkan sarana melampiaskan ekspresinya, seniman harus benyak mengeluarkan uang. Dan mengeluarkan uang untuk berekspresi, ternyata tidak mampu dilakukan oleh para seniman jalanan. Maka digunakanlah dinding sebagai media mereka, selain pertimbangan utama bahwa sarana tempat-tempat umum adalah media yang paling tepat untuk digunakan dalam grafiti, karena grafiti harus meninggalkan pesan yang seharusnya pula dilihat oleh banyak orang.
Tidak sedikit memang orang yang masih menganggap grafiti sebagai sebuah perilaku vandalisme, hanya karena media yang digunakan adalah sarana publik. Namun juga banyak orang yang melihat grafiti merupakan sebuah bentuk ekspresi seni, yang jauh lebih baik ketimbang dinding-dinding dipenuhi dengan pesan-pesan komersial. Dan sekali lagi, grafiti juga patut kita hargai sebagai karya seni. Dan perbedaan ini mungkin menjadi pembenaran bahwa grafiti merupakan sebuah kontroversi.
Grafiti Action Sebagai Sebuah Komoditi
Tak bisa dipungkiri, bahwa grafiti action telah menjadi satu fenomena tersendiri di masyarakat. Khusunya bagi anak muda yang umumnya menjadi pelaku grafiti. Terlepas maksud dan tujuan dari grafiti action tersebut, baik yang pure seni ataupun yang memang ditujukan sebagai bentuk protes. Namun hal ini seperti sudah menjadi satu trend tersendiri dikalangan anak muda.
“Pasar” memang mempunyai mata dimana-mana. Dimana dia melihat fenomena dan besarnya antusias akan sesuatu hal, maka dia akan menjadikan hal itu sebagai komoditi untuk mendapatkan keuntungan baginya. Contoh sederhanya adalah game play station yang bertemakan grafiti action, walaupun mungkin tidak terlalu laku dipasaran. Namun “pasar” telah memperlakukan grafiti sebagai sebuah komoditi. Tak ada larangan memang mengenai hal ini, mengenai apa yang hendak dilakukan oleh “pasar” itu.
Karena kondisi seperti ini mempunyai dua sisi yang berbeda bagi grafiti. Grafiti akan menjadi sangat banyak peminat atau pelakunya, namun disisi lain grafiti seolah-olah telah menjadi barang dagangan. Untuk yang kedua, tentunya sangat buruk dampaknya bagi grafiti. Karena grafiti, seperti halnya hakekat dari seni yang bertujuan untuk ekspresi bebas dan tidak untuk diperjualbelikan. Jika hal ini terus berlanjut, mungkin kita tak akan heran suatu saat, untuk melihat grafiti action harus mengeluarkan sejumlah uang.
Dan yang mampu untuk melakukan perlawanan terhadap proses penghianatan terhadap grafiti sebagai seni, yang seharusnya tidak diperjual belikan adalah grafiti itu sendiri.
Pada saat yang sama, maka grafiti yang sejati akan melakukan perlawanan atas kondisi ini. Din-ding jalan akan semakin penuh dengan coretan, tembok-tembok publik pun akan sesak de-ngan berbagai macam tulisan atau gambar bernada protes. Tak hanya protes terhadap kondisi dimana grafiti menjadi komoditi, tapi juga protes terhadap sistem yang mem buat grafiti menjadi komoditi. (http://www.prp-indonesia.org - Grafiti Action, diakses 14 April 2007).
Aliran Grafiti
Aliran atau gaya dalam grafiti cukup banyak, namun “tag” merupakan salah satu dasar yang harus dimiliki oleh para bomber. Tag merupakan gaya dalam menulis atau membuat gambar-gambar atau tulisan sehingga menarik, biasanya para bomber memiliki ciri khas ma-sing-masing pada tag-nya tersebut. Selain tag ada pula yang disebut throw-up atau biasa disebut fill-in, ini adalah sebuah teknik menggambar dengan sangat cepat dengan menggunakan dua hingga tiga warna, di mana kecepatan menjadi tujuan utama dalam gaya yang satu ini.
Paling seru dalam grafiti ialah apa yang di sebut dengan wildstyle. Gaya ini adalah sebutan di mana seorang bomber dapat melakukan apa saja, baik itu dari segi disain atau pun pemilihan warna, dan karya yang paling ekstrim menjadi sesuatu yang paling menarik di sini. Para bomber pun saling menghasilkan karya-karya yang terkadang membuat seseorang harus memperhatikan dengan seksama maksud dan arti dari karyakarya mereka tersebut. dikutip dari http://www.freemagz .com, (diakses 14 April 2007).
Dalam seni grafiti, terdapat beberapa aliran-aliran yang sering digunakan oleh para bomber dalam membuat grafiti di tembok-tembok jalanan ibu kota. Berikut ini adalah sedikit penjelasan dari aliran-aliran grafitti :
Bubble, yaitu gaya pola yang umum dipakai writer atau bomber untuk melakukan throw up (menggrafiti dengan cepat). Wildstyle atau semi wildstyle, yaitu gaya yang sejenis dan biasa dipakai serta populer bagi para writer. Ciri gaya pola ini adalah menggunakan ornamen seperti tanda panah, bintang, dll. 3D, yaitu gaya pola yang mengesankan kesan 3 dimensi. Tagging. Adalah gaya/pola yang umum dilakukan oleh para bomber di mana hasilnya nampak seperti tanda tangan. Hanya sekadar tulisan. Ini yang kemudian disebut sebagai corat-coret.
Fungsi Grafiti
1. Bahasa rahasia kelompok tertentu.
Grafiti mengalami satu perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukan satu identitas pribadi, seperti yang dilakukan oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Yang selalu menuliskan namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian membuat Taki menjadi terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak muda disana, yang seperti terinspirasi oleh Taki, karena hanya dengan melakukan coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi terkenal. Grafiti juga dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sekali lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya (geng).
2. Sarana ekspresi
Seiring perkembangan jaman perubahan gaya hiduf (life style). Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu dinding
3. Sarana pemberontakan.
Grafiti sebagai media propaganda atau kritik atas satu kondisi sosial yang ada. Umumnya pelaku grafiti yang menjadikan grafiti sebagai media perlawanan dan penyadaran, dalam grafitinya selalu meninggalkan pesan-pesan pagi orang yang melihatnya. Sehingga hasil dari coretan tersebut pun, bukan sekedar kata-kata atau tulisan. Namun juga banyak menampilkan gambar-gambar, yang kemudian diolah sedemikian rupa, sehingga juga terlihat sebagai sebuah ekspresi kreatif. Kalaupun bentuk penyampaianya hanya berupa tulisan atau coretan, namun ketika coretan tersebut mempunyai makna, pesan atau kritik sosial, maka makna, pesan ataupun kritik sosial dari coretan tersebut adalah sebuah bentuk seni tersendiri. Karena seni itu sendiri, dalam bentuknya yang luas akan selalu meningggalkan pesan. (http://www.freemagz.com, diakses 14 April 2007).
Pustaka Rujukan :
Buku Tinjauan seni rupa / oleh Drs. Jajang Suryana, M.Sn.
Komentar
Posting Komentar