DESAIN SESUDAH MODERNISME
DESAIN SESUDAH MODERNISME
Oleh Meiyani Hertanto, S.Sn.
(Bagian kecil dari laporan skripsi Desain Sesudah Modernisme di FSRD ITB)
Pada dasarnya, tidak ada kesepakatan yang ketat tentang kapan tepatnya awal pemunculan Modernisme atau Erakan Modern ini. Para kritikus lazim menunjuk masa Revolusi Industri di Eropa pada pertengahan abad 18 hingga 19 sebagai pemicu awal terjadinya perubahan-perubahan mendasar dalam pola kehidupan dan tatanan masyarakat Barat, baik di bidang ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Pada masa ini dasar kehidupan manusia modern mulai dibentuk, baik melalui struktur sasyarakatnya maupun struktur industrinya. Berbagai perubahan besar-besaran terjadi sebagai akibat diterapkannya alat dana tenaga permesinan dalam proses produksi, seperti pendirian pabrik-pabrik tempat kerja yang terpisah dari rumah, terciptanya kelas buruh dalam masyarakat, pertumbuhan kota dana masyarakat sub-urban, serta tumbuhnya konsumerisme dengan meningkatknya taraf hidup dan tersedianya barangbarang produksi massa hasil industrialisasi.
Secara garis besar, Kenneth Frampton (1980), menggolongkan berbagai transformasi ini ke dalam 3 kategori, yaitu transformasi budaya (1750 - 1900), tranformasi wilayah (urban development, 1800 - 1909), dan transformasi bidang teknik (structure engineering, 1775 - 1939). Faktor-faktor tersebut yang melatarbelakangi munculnya Modernisme, khususnya dalam bidang arsitektur sebagai induk cabang seni dan desain pada masa itu.
Pengertian “desain” dalam artian modern, yaitu kegiatan desain yang terpisah dari kegiatan produksinya dan desain sebagai bagian dari nilai komersial suatu produk, mulai terbentuk. Perkembangan awalnya sangat diwarnai oleh gejolak perdebatan antara mempertahankan konsep tradisional seni kriya (craft) dengan kemodernan sisitem kerja mesin dalam proses produksi massal. Jika dalam sejarah kesenirupaan, munculnya aliran Impressionisme pada sekitar tahun 1870 sering dianggap sebagai aliran peralihan ke arah munculnya seni rupa ‘modern’, maka dalan desain dikenal aliran Art Nouveau sebagai aliran peralihan ini --atau dalam istilah Penny Sparke disebut “proto-modernism” -- yaitu pada sekitar tahun 1900.
Pemunculan Art Nouveau sebenarnya sangat dipengaruhi oleh aliran Art & Craft Movement yang telah berkembang di Inggris pada pertengahan abad 19, dengan tokohnya John Ruskin dan William Morris. Secara umum, kedua aliran ini sering diartikan sebagai reaksi ideologis para perancang terhadap gelombang industrialisasi dan mekanisasi, yang dianggap telah menurunkan mutu desain dan kebanggaan kaum perajin terhadap barang-barang yang diproduksi secara massal. Perbedaannya ialah, Art & Craft Movement lebih berdimensi sosial dan bersikap anti-industri, yaitu dengan mendirikan gilda-gilda seperti jaman Abad Pertengahan guna menyelamatkan keterampilan olah seni, kriya dan ornamen pada benda-benda desain. Sedang Art Nouveau justru berusaha memanfaatkan kemajuan teknologi dan kekayaan yang telah dicapai oleh masyarakat industri masa itu.
Art Nouveau dapat dikatakan bertujuan menyatukan seni dan teknologi dalamkehidupan sosial sehari-hari. Namun secara praktis dan dari sudut pandang budaya, aliran ini sering dianggap sebagai ‘reaksi panik’ kaum borjuis terhadap dampak industrialisasi yang semakin dominan, yaitu dengan terbentuknya selera pasaran karena melimpahnya barang-barang yang dulunya hanya bisa dikonsumsi oleh orang-orang kaya. Art Nouveau berkembang pesat di seluruh Eropa dan pengaruhnya juga ke Amerika Serikat. Beberapa tokohnya misalnya adalah Hector Guimard di Perancis, Victor Horta dan Henry van de Velde di Belgia, kelompok Vienna Secession di Austria, dan dalam bentuk radikal oleh arsitek ‘eksentrik’ Antonio Gaudi di Spanyol. Di Amerika Serikat pengaruh Art Nouveau terutama tampak pada kerajinan gelas dan metal dari Studio Tiffany.
Di Jerman aliran ini dinamakan Jugendstil, sedang di Scotlandia dengan garis-garis yang lebih linier dikembangkan oleh kelompok The Glasgow Four dengan tokohnya Charles Rennie Mackintosch. Karya-karya Mackintosch inilah, khususnya bangunan The Glasgow School of Art, yang sering dikatakan merupakan cikal bakal pendekatan desain Modernisme, karena sudah menunjukkan kebaruan-kebaruan dalam pengolahan bahan dan konsturksi, meskipun masih belum meninggalkan penggunaan ornamen.
awal abad 20, lengkung-lengkung Art Nouveau yang telah merambah ke hampir segala jenis produkdesain dan arsitektur seakan-akan mengalami kejenuhan dan me-munculkan semacam ‘reaksi balik’. Di kalangan arsitek dan pendesain terdapat kesamaan kecenderungan untuk meninggalkan konsep lama’menempelkan’ seni pada permukaan benda-benda, karena hal itu dipandang tidak lagi sesuai dengan tuntutan jaman. Era industri dan mekanisasi yang tak terbendung lagi telah memaksa kaum perancang untuk mengubah cara pandangnya terhadap fenomena mesin serta produk-produk yang dihasilkan, bukan dengan mengelabuinya dengan ornamentasi, melainkan dengan menciptakan perpaduan yang rasional antara konsep seni dan industri, antara aspek estetika dan teknik.
Merunut faktor-faktor penyebab munculnya prinsip desain modernisme sebenarnya sangatlah kompleks, seperti halnya dengan menentukan kapan awal pemunculannya. Secara garis besar beberapa faktor pendukung bisa disebutkan berikut ini: Pertama, industrialisasi bersamaan dengan berkembangnya kapitalisme telah mendorong lahirnya ‘kelas menengah’ baru yang cukup makmur. Kebutuhan dan kemampuan dalam pemilikan barang-barang menjadi semakin luas ke berbagai lapisan masyarakat. Dengan alasan untuk memenuhi tuntutan ‘demokratisasi’ ini maka diperlukan desaindesain yang sederhana dan terstandarisasi sehingga bisa diproduksi secara massal dengan harga yang terjangkau, serta tidak mewakili selera kelas tertentu (impersonal).
Kedua, kemajuan teknologi telah memunculkan sejumlah fungsi baru dalam kebutuhan hidup masyarakat modern, sedang fungsi-fungsi lama mengalami transformasi. Tipetipe bangunan yang sebelumnya tidak dikembangkan seperti pabrik, gedung perkantoran dan pertokoan, rumah sakit, sekolah dan hotel besar merupakan tantangan baru dalam bidang arsitektur. Sedang revolusi gaya hidup yang ditandai dengan berperannya rumah-rumah ‘sub-urban’, rumah tanpa pembantu, penggunaan peralatan listrik seperti radio, televisi, alat pembersih debu, lemari es, dan sebagainya, telah menimbulkan problem-problem baru dalam perancangan dan penataannya.
Ketiga, ditemukannya metode pengolahan dan teknik penggunaan bahan-bhan mterial baru. Dengan menggunakan material baja, beton bertulang dan kaca lebar, desain arsitektur dimungkinkan untuk mengeksploitasi bentuk-bentuk baru yang tadinya tidak dikenal, seperti bangun-an berkantilever atau gedung-gedung pencakar langit dengan kerangka baja dan selaput dinding kaca (curtain wall). Desain industri juga makin berkembang melalui sejumlah eksperimentasi dan eksplorasi bahan, seperti berbagai jenis plastik, serat gelas (fibre glass), logam ringan se-jenis aluminium atau campuran (alloy), baja tak berkarat (stainless steel), pelengkungan kayu lapis (laminated bentwood) dan sebagainya.
Pokok-pokok Gagasan dalam Modernisme
Pokok gagasan Modernisme lazim disebut juga ‘rasionalisme’, dan dalam penerapannya dapat dijabarkan lagi dalam beberapa ‘turunan’nya. Berikut ini, untuk lebih memudahkan dalam memahami Modernisme, akan diuraikan beberapa pokok gagasan yang dianut di dalamnya. Pokok-pokok gagasan ini sebenarnya tidaklah dapat dipandang sebagai bagian yang berdiri sendiri-sendiri secara terpisah, namun merupakan suatu kesatuan yang saling berkaitan dan saling pengaruh antara satu dengan yang lainnya.
a. Fungsionalisme
Salah satu aspek rasional desain adalah apabila ia mampu memenuhi sasaran praktisnya, yaitu fungsional. Meskipun nilai fungsi selalu melekat dalam konsep desain dari sejak awal, namun dalam pendekatan Modernisme, aspek ini menjadi gagasan yang diutamakan. Selain fungsi menjadi faktor determinan yang menentukan bentuk, fungsi sebuah desain atau elemen desain juga secara jujur direfleksikan bahkan diekspresikan oleh bentuk tanpa ditutup-tutupi atau dibuat-buat. Fungsionalisme dengan demikian dinilai sebagai pemenuhan kualitas sebuah desain. Selebih dari itu, akan dinilai sebagai ‘pemborosan’ pada hal-hal yang tidak fungsional.
Ada beberapa analogi pembenaran dalam penerapan paham fungsionalisme ini. Pertama adalah analogi ‘biologis’, yaitu para perancang mendasari pengamatannya pada alam dan bentuk-bentuk mahluk hidup. Mereka mengamati bahwa suatu organ mempunyai bentuk tertentu, bahkan berevolusi menuju suatu bentuk tertentu karena tuntutan fungsinya. Analogi ini berkembang dalam pendekatan desain yang ‘organis’, yaitu bahwa bentuk luar suatu benda atau bangunan ditentukan oleh tuntutan fungsi dan struktur di dalamnya.
Analogi yang lain adalah analogi ‘mekanis’. Dalam analogi ini, pengamatan para perancang didasarkan pada bentuk-bentuk hasil kemajuan teknik seperti kapal, pesawat terbang, bendungan atau jembatan. Bentuk-bentuk ini dikagumi karena ‘form fitting’, mempunyai bentuk yang apa adanya, tidak berlebihan serta efisien, ‘pas’ sesuai dengan fungsinya. Dari sini muncullah paham baru tentang nilai keindahan suatu desain.
b. Estetika Mesin
Estetika mesin merupakan hasil penggabungan antara konsep seni dengan industri, yaitu kaidah-kaidah yang muncul dalam tuntutan rasionalitas industri. Nilai estetikanya mengacu baik pada bentuk mesin itu sendiri yang lugas, fungsional, tanpa ornamen atau dekorasi; sifat dan cara kerja mesin yang rasional dan efisien; serta pada bendabenda yang dihasilkan oleh sistem kerja mesin, yaitu sederhan, presisi dan terstandarisasi. Maka bentuk-bentuk desain yang dihasilkan adalah bentuk yang sederhana (simple), bersih (clean), dan jelas (clear).
Kesederhanaan bentuk seringkali ditampilkan dengan penggunaan atau penyusunan bentuk dasar geometris atau bentuk-bentuk primer --seperti kotak, kubus, silinder, atau segitiga-- warna tunggal atau polos, serta anti ornamen. Bentuk dasar geometris selain dianggap mampu mengungkapkan sikap progresif dari mesin, juga kualitas abstraksinya yang impersonal dikatakan menyimpan nilai keindahan yang ‘abadi’ dan universal sebagaimana telah dikemukakan oleh Plato pada jamannya. Sedang ornamen baik dalam bentuk, warna, maupun motif menjadi tidak penting bahkanharus dihindari karena selain tidak memenuhi kriteria di atas, penggunaan ornamen juga mencerminkan kebudayaan kuno atau tradisional, dan tidak modern.
c. Kebenaran dan Kejujuran
Salah satu konsekuensi cara berpikir rasional yang merupakan dasar pendekatan desain Modernisma adalah kebenaran dan kejujuran. Maka kaum Modernis juga menganut pandangan bahwa rancangan yang baik adalah yang mempu menampilkan nilai-nilai kebenaran (truth) serta kejujuran (honesty) baik terhadap fungsi, material, maupun struktur/konstruksi. Hal ini sejalan dengan metode kerja ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam ilmu pengetahuan, kebenaran dan proses dinilai melalui ‘keabsahan’ atau validitasnya yang mampu dibuktikan secara nyata/empiris.
Namun demikian perlu juga dikemukakan di sini bahwa konsepsi tentang ‘kebenaran dan kejujuran’ yang diajukan para penganjur Modernisme ini, sebenarnya sulit unutk diterima sebagai kategori ‘rasional-teknis’. Karena, bagaimanapun ‘kebenaran dan kejujuran’ adalah konsep yang sangat bersifat moralis-ideologis dan berlaku normatif. Artinya, konsep ini lebih sering berlaku sekadar sebagai justifikasi ideologis bagi keabsahan diterapkannya Modernisme, yang pada akhirnya, sebagaimanan akan ditunjukkan kemudian, tidak dapat terus berguna untuk memepertahankan Modernisme sebagai ‘jalur utama’ desain pada paruh akhir dekade 70-an.
d. Gaya Universal
Gelombang kebaruan pada pergantian abad yang dibawa oleh penemuan mesin, seolaholah menuntut suatu kebaruan gaya atau corak desain yang sama sekali baru dan tidak mengacu pada gaya-gaya yang sudah ada sebelumnya. Pemunculan Modernisme, yang didasarkan pda pendekatan-pendekatan yang rasional, fungsional dan terukur, serta di dalamnya terkandung nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, dianggap memenuhi pencarian gaya yang sesuai dan mampu mewakili semangat jaman modern ini (Zeitgeist = spirit of the age). Karenanya, dengan dasar asumsi bahwa semua kebutuhan manusia bisa dirasionalisasikan, desain modern harus mampu merupakan jawaban paling benar bagi semua persoalan desain yang muncul di semua tempat yang berlaku untuk semua orang di segala waktu (universal).
Hal ini terlihat dari berbagai eksperimen desain yang dilakukan par tokoh Modernisme dalam mencari bentuk desain baku (type-form), yang didasarkan pada pandangan bahwa desain yang baik adalah desain yang dengan tegas mampu memenuhi satu fungsi utama saja, sehingga dengan demikian desain tersebut seakan-akan sudah tidak dapat atau tidak perlu dikembangkan lagi, karena yang selebih dari itu akan dianggap sebagai tidak esensial atau tidak efisien.
Dinamika Perkembangan Modernisme
Modernisme merupakan sebuah garya atau aliran yang tunggal, dan bisa dengan sederhana dan tegas ditunjukkan definisi serta batasan-batasannya. Dalam perkembangan sejarahnya ternyata Modernisme tidak selalu berjalan dalam garis sejarah yang lurus atau dengan pemahaman yang selalu seragam. Sejarawan arsitektur C. Norberg Shulz, dalam bukunya Meaning in Western Architecture, bahkan tidak menggunakan istilah “modern” dalam pembabakannya, melainkan menganggap bahwa paham yang dominan pada paruh pertama abad ini adalah “Fungsionalisme”.
Dari situ dapat dipahami bahwa yang bernaung di bawah istilah Modernisme sebenarnya ada beragam aliran yang masing-masing memiliki penekanan khusus pada aspek gagasan tertentu, namun dengan tetap berpegang pada paradigma fungsi sebagai faktor determinan, serta fenome-na mesin sebagai sumber acuan. Perbedaan aliranaliran itu terutama ditentukan oleh konteks sosio-historis masyarakat dan negara tempat aliran itu berkembang, serta pengaruh dari tokoh-tokohnya.
Salah satu tonggak perkembangan Modernisme adalah berdirinya sekolah desain Bauhaus yang dipimpin oleh Walter Gropius, di Weimar (1919), dan kemudian pindah ke Dessau (1925), Jerman. Prinsip dasar pendidikan Bauhaus adalah mengintegrasikan semua cabang ilmu pendukung desain --seni kriya dan teknik-- dengan tujuan menghasilkan desain-desain yang mampu menjawab realitas sosial dalam tantangan budaya industri modern. Dengan sejumlah tenaga pengajar adalah tokoh-tokoh seniman pembaharu aliran Kubisme Abstrak dan Konstruktivisme, seperti Paul Klee, Kandinsky, The van Doesburg, dan Josep Albers, Bauhaus menerpakan metode belajar yang memebelot dari konsep Romantisme dan Historisisme karya-karya klasik. Hasilnya adalah keberanian eksperimentasi individual dalam metode pangolahan bahan, serta ‘cara baru’ dalam memandang bentuk yaitu dengan mereduksinya ke elemen-elemen dasar bentuk geometris, dan kemudian memanipualsikannya kembali dalam olahan dengan yang sederhana, ‘jujur’ dan rasional.
Salah satu upaya ‘memperbaharui’ cara pandang ini dicoba dilakukan oleh Charles Jenkcs dengan membuat semacam ‘peta evolusi’ dari perkembangan gagasan Modernisme, yang dipahami sebagai sebuah ‘Gerakan Kemodernan’ yang pluralistik. Dalam pemetaannya yang cukup rumit, Jencks mengaitkan arsitektur dengan sikap politik. Alasannya: Pertama, para srsitek modern telah semakin tergantung pada pola kerja kolektif yang dikuasai dan ditentukan oleh kalangan pemerintahan maupun bisnis korporasi raksasa; kedua, arsitek sebenarnya mempunyai potensi untuk melakukan perubahan dalam masyarakat karena arsitektur mempengaruhi car dan sikap hidup manusia yang selalu bersentuhan dengnnya; ketiga, arsitektur adalah ‘seni politik’ yaitu karena arsitektur secara eksplisit merupakan perwujudan dari dunia publik dan nilainilai sosial dan budaya yang hidup di dalamnya.
Menurut Jencks, gagasan-gagasan yang muncul dalam arsitektur modern berkembang secara evolusioner dalam 6 tradisi politik, tanpa pernah benar-benar mengalami kepunahan namun sekadar mengalmi ‘pasang surut’ dan perubahan bentuk (transformasi), atau merupakan overlapping dari satu tradisi dengan tradisi lainnya. Secara ringkas keenam tradisi tersebuat adalah sebagai berikut:
a. Tradisi Idealis
Merupakan sentral dari apa yang lazim kita kenal sebagai Modernisme. Gagasangagasan dalam tradisi ini sangat didasari oleh idealisme-idealisme, baik idealisme sosial maupun idealisme dalam mencapai kesempurnaan bentuk.
b. Tradisi Kesadaran (Self Conscious)
Tradisi ini mengutamakan idealisme seperti tradisi pertama, tapi dengan kesadaran yang sa-ngat berlebih-lebihan (hyperconscious), misalnya ada usaha untuk mencapai nilai keabadian melalui monumentalitas, atau penonjolan inovasi-inovasi teknologi.
c. Tradisi Intuitif
Penekanan gagasan dalam tradisi ini adalah pada kebebasan ekspresi, imajinasi, dan kreativitas individual.
d. Tradisi Logis
Ciri tradisi ini adalah dengan sistematika dan perhitungan yang sempurna berusaha mewujudkan utopi-utopi teknologis secara sangat rasional.
e. Tradisi Ketaksadaran (Unself Conscious)
Dinamakan demikian karena sikap dalam tradisi ini didasarkan pada sistem produksi massa atau pre-fabrikasi yang bukan lagi dikuasai manusia secara individu/personal.
f. Tradisi Aktivis
Gagasan-gagasan dalam tradisi ini sangat menekankan pada tujuan-tujuan sosial atau sebagai agen perubahan sosial.
Jencks mengakui bahwa pengelompokan politik ke dalam 6 tradisi ini merupakan penyederhanaan dari kenyataan sesungguhnya yang lebih rumit. Dari keenam tradisi ini kemudian dapat ditarik kesamaan-kesamaan asumsi sehingga secara ringkas seluruh gagasan tersebut dapat dibedakan ke dalam 2 kutub yang berlawanan namun saling
melengkapi, yaitu gagasan tentang kesamaan dan keadilan sosial lebih dianut dalam Tradisi Aktivis, Unself Conscious, Logis, dan Idealis; sedangkan tradisi Self Conscious, Idealis dan Intuitif, lebih mengacu pada kebebasan otonomi dan ekspresi estetik.
Dualisme antara kebebasan dan keadilan merupakan dua kutub yang tak mudah terdamaikan dalam praktik, namun kualitas komplementer keduanya secara dialektis selalu mewarnai perdebatan dan pencarian alternatif bagi persoalan desain modern maupun persoalan sosial secara umum.
Pustaka Rujukan :
Buku Tinjauan seni rupa / oleh Drs. Jajang Suryana, M.Sn.
Komentar
Posting Komentar