Posisi Bidang Kerja Desain dalam Seni Rupa
Posisi Bidang Kerja Desain dalam Seni Rupa
1. Fenomena Desain
Heskett (1980: 6) menulis:
- BENTUK LAYANG-LAYANG DI DESA LODTUNDUH, KECAMATAN UBUD, KABUPATEN GIANYAR
(Bagian dari Laporan Skripsi I Wayan Alit Anggawasta, S.Pd.)
Daftar Pustaka :
Buku Tinjauan seni rupa / oleh Drs. Jajang Suryana, M.Sn.
1. Fenomena Desain
Istilah desain telah banyak digunakan di dalam aneka jenis kegiatan masa kini. Tetapi, pengertian tentangnya belum dipahami secara menyeluruh. Pengertian desain, dalam kamus umum sama dengan konstruksi, pola (Echols dan Shadily, 1990: 177); rencana (Wojowasito, 1982: 104); gagasan awal, rancangan, perencanaan, susunan, projek, hasil yang tepat, produksi, membuat, mencipta, menyiapkan, menyusun, meningkatkan, pikiran, maksud, kejelasan (Webster, 1974: 207); gubahan, ciptaan, bentukan, dan rangkuman.
Desain adalah proses dan juga hasil dari proses. Proses meliputi konsep gagasan dan metode. Hasil dari proses mencakup gaya dan estetika. Secara nyata proses dan hasil dari proses itu terkait dengan pengaruh dari luar seperti kemajuan sains dan teknologi; lingkungan sosial budaya; dan kaidah estetika yang berlaku. Oleh karena itu, desain tidak netral, tidak bisa menentukan perkembangan dirinya sendiri.
Heskett (1980: 6) menulis:
“Pertumbuhan perdagangan pada jaman pertengahan merupakan suatu fase yang amat penting bagi perkembangan menuju spesialisasi.Di negara-negara Eropa Barat yang sedang berkembang seperti Florentina, Venesia, Neremberg dan Bruges, bengkelbengkel besar dikembangkan untuk melayani selera-selera canggih (sophisticated) kehidupan istana, gereja-gereja dan saudagar-saudagar kaya. Kendati keahlian tradisional dan teknik-tekniknya masih tetap kuat, akan tetapi kecakapan itu sudah terspesialisasi. Tidak sedikit barang-barang sejenis telah dibuat oleh para pengrajinpengrajin di kota yang tinggi tingkat kecakapan dan kepekaan seninya dengan proses produksi yang masih berdasarkan metode kerajinan (craft methods) untuk memperbanyak model-model yang telah dibuat. Karena itu batas antara seniman dan pengrajin masih bebaur, ini tergantung dari kadar kemampuan yang diperoleh lewat pengalaman dan teknik yang berlaku pada masa itu, ketimbang pada perbedaan sifat dan jenis kegiatannya”.
2. Desain Sebagai Bidang Kegiatan Seni Rupa
Pengelompokan hasil kegiatan seni rupa menjadi seni murni dan seni terap, seperti telah diuraikan, menunjukkan posisi pelakunya. Istilah seni terap digunakan untuk menunjuk karya-karya yang dibuat oleh para pedesa. Sementara itu, sebutan seni murni ditujukan kepada karya-karya yang dibuat oleh para pekota. Tetapi, seni terap itu, pada kenyataannya, digarap juga oleh orang-orang kota yang selam ini merasa berbeda posisi (baca: lebih tinggi tingkat sosialnya) dibanding orang desa. Agar posisi orang kota penggarap seni terap tidak ikut diremehkan, maka mereka menerapkan penanda sebutan khusus kepada produk mereka, bahwa produk mereka dikerjakan berdasarkan konsep tertentu. Konsep dalam berkarya diposisikan sebagai pembeda antara pedesa dengan pekota. Padahal, konsep tersebut, tentu ada dalam dua kondisi yang tidak sama: yang maujud (digembar-gemborkan, dipresentasikan, dibukukan dalam teori) dan yang tidak maujud, tidak pernah dipresentasikan, tidak peprnah diangkat sebagai bahan wacana, apalagi perdebatan. Konsep tersebut dianggap mendasari penyebutan istilah desain!
Tak bisa dipungkiri, desain telah menjadi satu label keberhasilan benda produk. Sejalan dengan pemikiran masyarakat kota yang lebih terdidik, benda produk dilahirkan dalam kesenggangan pencarian. Kebaruan, kelainan, keunikan sebagai gambaran tuntutan pola pikir para medernis, baik dalam hal bentuk maupun aneka kemungkinannya, telah dipadukan dengan produk desain mereka. Tanpa disadari, manusia bisa terlibat dalam produk desain setiap waktu. Mulai bangun tidur, menjalankan kewajiban harian, hingga menjelang tidur kembali, manusia selalu berhadapan dan ada di dalam penggunaan produk desain.
Desain Yang Tak Pernah Berhenti
- JENIS ATAU BENTUK RUPA TIPAT BANTEN DI DESA KALIASEM, KECAMATAN BANJAR, KABUPATEN BULELENG
(Bagian dari Laporan Skripsi Ketut Kendi Paradika, S.Pd.)
Jenis tipat banten memiliki bentuk yang sangat beragam. Bentuk menjadi identitas dimana dan kapan tipat tersebut digunakan, Secara religius tipat yang dibuat sedemikian rupa merupakan pelengkap upakara atau banten, dibalik fungsinya tersebut jika diamati tipat banten juga memiliki unsur estetika baik itu keindahan dan keunikan tersendiri.
Jenis atau bentuk tipat banten sesuai dengan data yang diperoleh di desa Kaliasem, kecamatan Banjar, kabupaten Buleleng, antara lain adalah sebagai berikut :
Tipat Nasi Tipat nasi merupakan tipat yang banyak dijumpai pada berbagai perlengkapan upakara atau banten. Bentuknya menyerupai segi empat atau belah ketupat, dengan panjang sisinya ± 5 cm. Tipat Nasi dapat disebut dengan tipat Kelanan. Disebut tipat kelanan jika berjumlah 6 (enam) sesuai dengan keperluan upakara.
Tipat Sirikan Tipat Sirikan bentuknya menyerupai tipat nasi, namun bentuk tipat sirikan lebih pipih dan menyerupai segi empat jajaran genjang, Tipat sirikan juga dapat disebut tipat Kelanan jika berjumlah 6 (enam). Umumnya tipat sirikan panjang sisinya ± 6 cm.
Tipat Mrasada Tipat ini merupakan tipat yang berukuran kecil, bentuknya segi empat jajaran genjang mirip dengan tipat sirikan hanya saja tipat mrasada ukurannya lebih kecil karena hanya terbuat dari setengah pilah dari helai busung janur. Ukuran panjang sisinya ± 4 cm.
Tipat Galeng Tipat galeng bentuknya menyerupai galeng (bahasa Bali) yang artinya bantal. Berbentuk segi empat pipih menyerupai tipat sirikan namun lebih memanjang. Ukurannya ± 5 Cm x 10 Cm.
Tipat Dampulan Tipat dampulan bentuknya segi empat jajaran genjang. Bentuknya hampir sama dengan tipat sirikan, hanya saja bentuknya lebih besar dan dua sudutnya lebih turun ke bawah, serta pada salah satu bagian sudutnya dihiasi dengan jalinan bentuk kepala burung. Tipat ini memiliki ukuran panjang masing-masing sisinya ± 7 cm
Tipat Gong Tipat gong merupakan tipat yang berbentuk instrument gamelan Bali yang disebut gong, bentuk tipat gong mirip dengan tipat sirikan namun ukurannya lebih besar dan ada tonjolan segi empat di bagian atasnya. Ukuran panjang sisi bawah ± 8 cm, dan sisi tonjolan di atasnya 3 cm.
Tipat Bagia Tipat Bagia bentuknya bulat, sama halnya dengan tipat gatep, hanya saja bulatan pada tipat bagia tersusun dari jalinan janur yang lebih banyak dan ukurannya lebih besar. Tipat ini memiliki ukuran diameter ± 3 cm.
Tipat Puser Gumi Tipat ini bentuknya bulat menyerupai gumi (bahasa bali) yang artinya bumi, tersusun dari jalinan janur dengan bentuk melingkar. Tipat puser gumi memiliki ukuran dengan diameter ± 5 cm.
Tipat Kibul Bebek Tipat kibul bebek mirip dengan tipat kepelan preratu terutama pada pertemuan ujung janur, namun yang membedakan adalah pada bentuk tipat bagian bawah. Tipat kibul bebek berbentuk segi tiga. Tipat ini berukuran kecil dengan panjang ± 6 cm.
(Bagian dari Laporan Skripsi I Wayan Alit Anggawasta, S.Pd.)
Layang-layang berekor
Yang dimaksud dengan sebutan ekor dalam layang-layang adalah penambahan kain panjang yang disambungkan pada bagian bawah layang-layang. Ini ditegaskan agar tidak tertukar dengan pengertian ekor pada model layang-layang bentuk burung.
a. Layang-layang bentuk Naga
Bentuk naga merupakan bentuk yang pertama kali dikembangkan perusahaan Jaya Sairam dan layang-layang naga paling banyak penjualannya. Layang layang naga diproduksi bermacam-macam ukuran ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Pada ukuran small bentuk ornamen kepala naga agak sederhana, sedangkan pada ukuran medium, large, dan extra large bentuk ornamen kepala semakin detail dan tampak lebih bagus dan lebih galak.
Konstruksi bantang (kerangka) layang-layang naga terdiri atas:
- Bantang badan bentuk T
Bantang badan bahan bambunya dibuat lebih besar dan lebih keras, karena bantang badan akan menjadi pegangan dari bantang sayap atas dan sayap bawah, disamping itu bantang badan nantinya juga sebagai tempat mengikat tali timbang.
- Bantang sayap atas
Bantang sayap atas dipasang pada bantang badan bagian atas. Bantang ini berfungsi menahan tekanan bagian atas layang-layang. Bantang sayap atas dibuat agak lentur agar tidak mudah patah saat diterpa angin. Biasanya diraut mengecil keujung sehingga bagian ujung akan lebih lentur.
- Bantang sayap bawah Bantang sayap bawah ukurannya lebih pendek dari bantang atas, bantang ini dipasang pada bantang badan bagian bawah. Bantang ini berfungsi menahan tekanan yang ada dibagian bawah layang-layang.
- Benang pinggir
Benang pinggir fungsinya menyatukan bentuk menjadi satu kesatuan sehingga lebih kuat menahan terpaan angin.
b. Layang-layang bentuk monyet
Layang-layang bentuk monyet bermotif binatang monyet yang berada di pohon kelapa dan duduk diatas buahnya dengan tangan terhentang dan tangan kiri monyet memegang sebuah kelapa. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk naga.
c. Layang-layang bentuk macan
Layang-layang bentuk macan bermotif macan bersayap dengan mulut terbuka menampakkan wajah garang dengan kedua kaki depannya direntangkan dan kedua kaki belakang ditekuk. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga
Layang-layang tidak berekor
a. Layang-layang kupu-kupu
Layang-layang kupu-kupu bermotif kupu-kupu dengan sayap terbuka dan warna warni penggambarannya secara dekoratif dan pewarnaanya sayapnya menggunakan tehnik ketul ( seperti pointilisme) dan bergradasi. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk naga.
b. Layang-layang burung
Layang layang bentuk burung ada bermacam-macam seperti bentuk burung elang, burung hantu, burung cendrawasih, dan burung onta. Secara mendasar semua bentuk burung tersebut bermotifnya burung yang sedang terbang, perbedaannya terletak pada hiasan kepala yaitu sesuai dengan bentuk burung yang dibuat. . Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Kontruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga.
c. Layang-layang bentuk capung
Layang-layang bentuk capung bermotif binatang capung dengan dua pasang sayap terbuka. Pewarnaannya menggaunakan tehnik gradasi dengan arsiran. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large.
d. Layang-layang bentuk kelelawar
Layang-layang kelelawar bermotif kelelawar terbang dengan mulut terbuka. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Kontruksi bantang yang di gunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga.
- UANG KEPENG DI BALI
Oleh Jajang Suryana
(Artikel dimuat di dalam Jurnal Prasi, Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajarannya, yang diterbitkan oleh FBS-UNDIKSHA)
Panji Koming dan Pailul, tokoh kartun ciptaan Dwi Koendoro, masih menggunakan uang “kepeng” untuk kegiatan transaksi jual beli mereka. Kedua tokoh tersebut adalah
tokoh zaman Nusantara Lama yang dihadirkan kembali untuk “menyungging” kehidupan masa kini oleh pekartunnya dalam koran Kompas Minggu. Uang kepeng, bagi mereka, adalah nyawa kehidupan sehari-hari. Jauh setelah zaman Panji Koming, di Bali, uang kepeng masih memiliki harga yang tinggi. Bahkan, banyak masyarakat Bali yang sangat bangga bisa memiliki koleksi uang kepeng yang banyak daripada memiliki uang rupiah!
Keterkaitan masa lalu dengan masa kini, pada masyarakat Bali, sangat kental. Masyarakat Bali yang beragama Hindu masih mengusung pola hidup yang erat kaitannya dengan para leluhur. Kawitan merupakan istilah yang digunakan sebagai sebutan tentang keterkaitan itu. Seorang warga Hindu Bali dianggap tidak bisa lepas dari ikatan asal (wit, ane mula), baik dengan leluhur maupun desa kelahiran. Oleh karena itu, pada setiap upacara besar, orang-orang Bali yang beragama Hindu, yang telah tinggal di luar desa, juga di luar Bali, harus pulang kampung untuk melaksanakan upacara di desa kawitannya. Hal lain yang menunjukkan bahwa masyarakat Bali masih terkait dengn keberadaan catatan masa lalu adalah pemanfaatan uang bolong (pis bolong, jinah bolong) yang biasa disebut ke-peng, dalam aneka kegiatan upacara.
Uang bolong dimaksud adalah uang logam (terbuat dari bahan krawang atau sejenis bahan pembuatan gamelan, kuningan, juga perunggu) yang memiliki lubang pada bagian tengahnya. Lubang pada uang tersebut umumnya berbentuk segi empat. Ada juga yang berbentuk bundar, segi enam sama sisi, juga segi banyak tak beraturan. Orang Belanda menyebutnya Chinesche Duit atau juga Chinese Coins.
Uang kepeng digunakan sebagai salah satu pelengkap sesajen (persembahan) dalam upacara. Panca yadnya adalah upacara yang terkait dengan keberadaan kepeng tersebut, terdiri atas dewa yadnya, rsi yadnya, pitra yadnya, manusa yadnya, dan butha yadnya. Pitra yadnya dan manusa yadnya, terutama, yang banyak memerlukan kelengkapan kepeng. Karena rutinnya upacara-upacara tersebut, pemakaian uang kepeng tidak pernah berhenti. Pada bulan Juli – September, setiap tahun, pesanan uang kepeng meningkat keras. Pada bulan-bulan tadi transaksi jual-beli uang kepeng di pasar tradisional Bali menjadi masa paling ramai, bertalian dengan bulan upacara bagi masyarakat Hindu.
- PERWUJUDAN, JIMAT, DAN PERMAINAN
Penggunaan kepeng bisa ditemukan dalam berbagai bentuk benda upacara di Bali. Benda-benda upacara seperti canang sari, penyugjug, sapsap, orti, banten penyeneng, kewangen, adalah sajen dan sejenisnya yang dilengkapi kepeng. Jumlah uang kepeng yang melengkapi benda-benda tersebut bermacam-macam. Menurut pengakuan beberapa masyarakat Bali, pada sajen-sajen tertentu, uang kepeng ada juga yang telah digantikan dengan uang logam recehan yang baru, uang Indonesia masa kini.
Pada masyarakat Hindu di Bali ada kepercayaan tentang kekuatan tertentu yang dilambangkan dengan bentuk tertentu pula. Arca perwujudan (praraga) termasuk jenis patung perlambangan tersebut. Arca ini, umumnya, dibuat dari bahan kayu cendana untuk bagian kepala dan “dalaman” tubuh patung. Pakaian patung sepenuhnya dibentuk dari untaian uang kepeng asli Cina. Patung jenis ini biasa disebut patung Sri Sedana, yang konon, sebagai patung yang akan membawa keberuntungan. Sri Sedana adalah lambang dewi kekayaan.
- PERJALANAN DESAIN
Perjalanan desain, di lingkungan masyarakat tradisi, ternyata dinamis. Masyarakat selalu menyesuaikan kebutuhannya dengan kondisi lingkungan. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh masyarakat pengolah kesenian tradisi, misalnya, banyak melibatkan pendukung kesenian seperti unsur pemerintah, ahli teori seni, maupun masyarakat pendukung kesenian bersangkutan. Upaya perubahan memang tidak selalu mulus. Kadang-kadang perubahan yang dilakukan mendapat hambatan, terutama terkait dengan pertimbangan adat, pakem, atau pun pernyataan “sudah sejak dulu begitu!”. Masyarakat sekitar pantai, lebih khusus pelabuhan, kerapkali menjadi pelopor perubahan-perubahan. Sikap mereka yang terbuka menghadapi masyarakat pendatang adalah salah satu penyebab yang menimbulkan tenaga perubahan. Tentu, di samping kesiapan berubah sering juga dilengkapi dengan sikap cerdas dalam memilah pengaruh yang datang.
Banyak contoh kesenian tradisional yang berubah dan menjadi kaya. Misalnya batik pesisir. Para pebatik bisa menerima unsur masukan dari nilai-nilai budaya masyarakat lain, tetapi mereka melakukan penyaringan dan sekaligus pengembangan sebagai bentuk kekayaan nilai kesenian yang baru. Lingkungan Pelabuhan Buleleng, Bali, masyarakatnya terkenal sebagai sumber perubahan-perubahan dalam bidang kesenian. Hingga kini, perubahan itu masih terus muncul dari keinginan memperluas jangkauan rasa maupun keinginan mereka. Misalnya, ada pertunjukan wayang kulit yang mentas hanya dalam waktu 2 jam, ada juga pertunjukan wayang yang diramu dengan seni genjek, kesenian sejenis acapela, musik mulut tradisi yang biasanya melengkapi kegiatan metuakan setelah selesai panen. Perubahan pertunjukan itu tanpa banyak sangkalan dari masyarakat pendukungnya. Begitu lancar perubahannya, bahkan kini telah menjadi sebuah tuntutan. Jika mewayang, harus lengkap dengan genjeknya. Begitupun tari pergaulan yang disebut Joget Bumbung. Tari kesukaan anakanak muda ini telah mengalami perubahan yang radikal sejalan dengan merebaknya joged-joged seronok para penyanyi dangdut pembebek Inul Daratista. Perubahan ini disukai masyarakat muda Buleleng, tapi dipertanyakan oleh para kaum tuanya.
Ada sebuah konsep pertunjukan yang dimaksudkan untuk mengubah dan memperkaya jenis pertunjukan wayang kulit Buleleng yang --pada waktu itu belum disusupi genjek- ditujukan untuk menggaet penonton muda. Tetapi, sejumlah golongan tua yang masih terikat keinginan menghargai karya para leleuhur, sejak awal telah menentang gagasan itu.
Pertunjukan wayang kulit adalah pertunjukan wayang yang menggunakan kelir atau layar. Kelir berfungsi sebagai media untuk menampilkan bayang. Oleh karena itu, istilah wayang diartikan sebagai bayangan. Tetapi, pengertian bayangan tersebut tidak sekedar berupa bayangan yang tergambar pada kelir. Bayangan atau wayang pada hakekatnya adalah gambaran kehidupan manusia. Selama ini, pertunjukan wayang kulit cenderung dalam tampilan yang ekawarna (monokrom). Warna-warna penghias wayang yang menggambarkan ciri watak tokoh, tidak pernah tampil pada kelir. Secara lihatan, terutama dalam pertunjukan, warna-warna itu tidak pernah diolah oleh dalang untuk memperkuat penampilan watak tokoh cerita, karena pertunjukan yang ekawarna dan sifat bahan kulit yang tak tembus cahaya.
Wayang adalah jenis kesenian lama yang bisa bertahan hidup hingga masa kini, dan tetap mendapat dukungan masyarakat pencintanya. Tetapi, di samping itu, banyak kesenian tradisional yang telah punah. Penyebab kepunahannya, di antaranya bisa diperkirakan, karena tidak ada masyarakat pendukungnya. Sejalan dengan perubahan waktu, pandangan masya-rakat terhadap salah satu jenis kesenian pun ikut mengalami perubahan. Ada jenis-jenis kesenian tertentu yang tidak dianggap memiliki hubungan batin dengan kehidupan masya-rakat masa kini. Oleh karena itu, kesenian tersebut ditinggalkan, tak didukung keberadaannya.
Daftar Pustaka :
Buku Tinjauan seni rupa / oleh Drs. Jajang Suryana, M.Sn.







Komentar
Posting Komentar