Fungsi Seni
Fungsi Seni Secara Budaya
- Posisi Seni dalam Lingkup Budaya
Dalam bahasan antropologi, istilah kebudayaan bermakna “keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat, op. cit.). Definisi tersebut dirujuk Koentjaraningrat dari konsep yang dikemukakan oleh Honigmann dalam The World of Man (1959). Menurut Honigmann, kebudayaan terdiri atas tiga unsur: 1) himpunan ide dan sistem gagasan; 2) kompleks kegiatan; dan 3) benda hasil karya manusia.
Unsur kebudayaan yang pertama berupa ide, gagasan, norma, peraturan dan nilai. Bersifat abstrak, karena berada dalam alam pikiran masyarakat. Namun sejalan dengan perkembangan zaman yang modrn, kini gagasan tersebut banyak disimpan dalam sebuah bentuk yang berbeda-beda baik itu buku, suara atau bahkan video yang banyak kini kita jumpai.
Unsur yang kedua yaitu serangkaian kegiatan manusia dengan manusia yang lain. Disini manusia bertindak dengan kegiatan pada usur pola yang pertama. Dari unsur kedua ini terbentuklah ikatan sosial yang bentuknya nyata bisa diserap, diamati dan didokumentasikan.
Unsur yang ketiga ini merupakan hasil dari kebudayaan fisik karna unsur yang ketiga ini merupakan hasil dari kegiatan manusia berupa karya-karya manusia yang memiliki wujud, nyata dan kasat mata.
Di antara tiga unsur tersebut yang paling mudah kita amati adalah hasil dari kebudayan fisik atau karya-karya dari setiap manusia. Seni rupa adalah bagian dari kebudayaan fisik karna semua hasil dari kegiatan bidang seni rupa memiliki tampilan rupa yang kasat mata.
- Penjajahan Gaya Baru
Masyarakat Jepang, sekalipun mereka telah mampu mengembangkan diri dengan aneka temuan teknologi tinggi, mereka tetap mengikatkan diri dengan aneka seni tradisi milik mereka. Sehingga, mereka dikenal oleh dunia luar sebagai negara yang modern sekaligus tetap memiliki nilai penghormatan terhadap milik dasar mereka. Budaya membaca yang mereka kondisikan dalam kehidupan sehari-hari, telah memberi andil besar dalam pengembangan jenis kesenian milik mereka. Kabuki, ikebana, dan kimono adalah sedikit di antara nama-nama jenis kegiatan dan hasil seni yang kemudian mempopulerkan nama Jepang.
Dari budaya tersebut berkembangalah salah satu jenis kegiatan seni rupa, komik yang dianggap erat kaitannya dengan Bangsa Jepang. Dunia animasi, gambar gerak telah maju disana. Komik karya Jepang ditunjang oleh keberadaan teknologi yang memadai. Bahkan teknologi cetak merak pun telah dikembangkan secara baik. Komik telah merebak hampir kesemua lapisan masyarakat baca modern saat ini. Bahkan pada jaman yang serba digital ini komik dapat diakses di internet hanya dengan membuka gawai yang bahkan hampir semua orang mempunyai gawai saat ini.
Berbagai produk komik atau animasi sangat banyak saat ini di internet. Tetapi masih sedikit dari masyarakat yang mau mengambil peluang untuk mau bergerak atau pun bersaing dengan negara lain, tentunya Jepang itu sendiri. Padahal dengan akses yang memadai tersebut kita bisa membuat atau pun mengembangkan karya atau ide kreatif kita agar anak-anak atau masyarakat tidak hanya mengenal budaya asing, tetapi budaya kita sendiri.
- Seni dan Martabat Bangsa
Keris, batik, wayang, gamelan, dan tari kecak misalnya, adalah bentuk-bentuk prestasi masyarakat yang tak pernah mendapat perhatian yang bijak. Boleh jadi prestasi tersebut telah menjadi ciri khas Indonesia, yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Pengenalan benda dan kegiatan tersebut begitu kental dengan kedatangan tamu asing ke Indonesia. Cinderamata antarnegara selalau melibatkan keris, batik, dan wayang. Gamelan Jawa, Sunda, dan Bali telah dipelajari di mancanegara. Begitu pun wayang kulit dan golek. Patung Asmat yang eksotik telah juga menjadi catatan penting yang mengangkat keberadaan Indonesia. Tetapi, begitu kuatnya pengenalan wisatawan mancanegara terhadap kesenian yang menjadi ciri khas daerah tujuan wisata Bali, mereka lebih mengenal nama Bali daripada Indonesia. Bali telah tercatat khusus dalam peta dunia salah satu sebabnya karena keunikan kegiatan keseniannya.
Hasil budaya masyarakat yang kini telah diakui oleh UNESCO salah satunya wayang. Pengakuan tersebut menunjukan bahwa keberadaan wayang merupakan bagian dari kehidupan seni masyarakat Indonesia. Bahkan banyak para seniman barat yang mempelajari kesenian tersebut. Karna menurut mereka kebudayan tersebut menarik untuk dipelajari. Di antara para penyuka wayang itu, ada yang menjadi dalang, pesinden, maupun pemain musik pengiring pertunjukan wayang.
Wayang, seperti kata para ahli, adalah bayangan. Kalau istilah tersebut diartikan secara terbatas, sebagaimana wujud wayang kulit, pengertian tersebut menjadi tidak lengkap. Wayang bukan sekadar bayangan dalam kelir (layar). Wayang adalah bayangan tentang kehidupan manusia, gambaran kehidupan manusia. Masih banyak bentuk dan jenis wayang lainnya, seperti Wayang Beber (berupa gambar pada lembaran kulit maupun kertas gulung), Wayang Golek (boneka trimatra dari bahan kayu bulat torak), Wayang Wong (diperankan oleh manusia penari), dan Wayang Klithik (terbuat dari bahan kayu pipih yang dilengkapi bahan kulit tebal sebagai bagian lengan), dan Wayang Topeng, yang dinikmati pada jenis-jenis wayang tadi, bukan bayangannya.
Wayang kulit, terutama wayang kulit purwa, merupakan salah satu jenis wayang ciptaan masa lalu yang bisa bertahan hidup dan tetap memiliki masyarakat pendukung hingga masa kini. Wayang jenis ini bisa kita temukan di daerah-daerah Jawa (terutama), Sumatera (Palembang), Kalimantan (Banjar), Bali, dan Lombok. Wayang kulit purwa berlatar belakang cerita Ramayana dan Mahabharata. Di samping itu, ada juga jenis wayang kulit lain yang berlatar belakang cerita panji, babad, sejarah, semi sejarah, maupun kisah agama.
Dalam seni wayang banyak unsur-unsur yang sangat kental didalamnya. Karna dalam penciptaan wayang perlu memperhatikan seperti Wanda (Istilah perwajahan atau raut pada wayang), Nilai Estetis Lihatan, Raut Peranan Satria (Terdiri atas satria, satria-dewa, satria-raja, satria-pandita dan satria-pongawa. Ada juga raut peranan satria-dewa-pongawa), Raut Peranan Pongawa (Pongawa adalah angkatan bersenjata bertugas sebagai pengawas), Raut Peranan Buta (Buta atau Raksasa dalam cerita wayang), Raut Tampang Penakawan Pandawa (Peranan cerita lucu atau jenaka), Cibiru (Cibiru adalah wayang golek yang dibuat berdasarkan pembuatnya. Ada Cibiru, Cibiru Lama dan Cibiru Baru), terakhir Nilai Estetis Non-Lihatan (Keindahan raut yang tak kasat mata(niskala, non-lihatan, non-visual) hanya bisa dirasakan oleh penikmatyang memiliki latar pengetahuan dan akar budaya tentang cerita wayang).
Fungsi Seni Secara Sosial
- Kegiatan Seni adalah Kegiatan Berkomunikasi
Berkesenian adalah menyampaikan gambaran pikiran dan perasaan melalui karya seni. Oleh karena itu Leo Tolstoy mendefinisikan kata seni dengan komunikasi. Seseorang yang membuat puisi karena sua-sana hatinya sedang gundah, isi puisi tersebut, paling tidak, telah menjadi gambaran pikir dan rasa penggubahnya. Puisi bisa lahir karena berbagai dorongan: kesedihan, kesenangan, keprihatinan, ke-banggaan, dan dorongan rasa lainnya. Dorongan-dorongan tersebut diolah oleh penggubah lewat proses berpikir. Lahirnya puisi tidak pernah terbebas dari pikir dan rasa tersebut.
Seorang seniman, siapapun dia adanya, dari desa maupun dari kota, berkarya untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Pada masyara-kat tradisional, kegiatan seni lebih banyak bersifat pekerjaan sampingan. Pada saat rehat kerja, kegiatan berkesenian mulai dilaksana-kan. Interaksi antara pelaku dengan penikmat bisa langsung tanpa perantara. Seorang seniman lukis di Desa Ubud misalnya, ketika dia membuat lukisan, hasil karyanya bisa dinikmati tetangganya sejak karya itu mulai dibuat hingga selesai. Dialog antara penikmat de-ngan pelaku bisa secara spontan dilakukan. Begitu pun bagi seni tari di desa-desa di hampir semua wilayah Indonesia. Berkesenian adalah aktivitas hiburan dan dialog sehari-hari yang serba terbuka.
Apa yang dikerjakan seniman di desa adalah sesuatu yang erat berkaitan dengan akar adat, kebiasaan, atau sistem gagasan yang mereka miliki. Kesenian tradisi tidak tercerabut dari sumber ide milik masyarakat. Oleh karena itu, proses interaksi antara pelaku, penikmat, dan karya bisa secara spontan dan terbuka.
- Seni dan Catatan Sosial
Sebuah karya sastra seperti novel, kerap dianggap sebagai karya seni yang memiliki “catatan sosial”. Banyak novel yang isinya bercerita tentang kejadian-kejadian yang berlangsung pada zamannya. Catatan tersebut ada yang secara terang-jelas dipaparkan di dalam cerita, tetapi ada juga yang secara tersamar. Faktor “keamanan” pengarang sering juga menjadi pertimbangan dalam memilih gaya penceritaan: realis atau simbolis.
Karya satra sendiri bersifat komunikasi. Penciptaan karya sastra disampaikan kepada komunikan tentang maksud si penulis. Fungsi sastra adalah untuk mengkomunikasikan atau menyalurkan ide-ide pikiran dan perasaan. Gagasan tersebut biasanya disampaikan literatur.
Selain itu ada juga deskripsi peristiwa, gambar psikologis dan pemecahan masalah. Hal ini dapat mejadi sumber ide untuk pembaca karna konflik atau tragedi yang diceritakan dalam karya sastra tersebut digambarkan untuk memberi kesadaran kepada pembacanya.
- Seni Komunal
Masyarakat tradisi adalah masyarakat yang lentur pertalian antarpri-badinya. Hal itu terbukti dalam kehidupan mereka sehari-hari. Seseorang yang memiliki hajat tertentu akan dengan mudah mendapatkan dukungan, pertolongan, atau sekadar perhatian dari anggota masya-rakat lainnya. Orang-orang yang menghuni suatu kawasan kampung misalnya, akan dengan mudah mengenali anggota kampungnya. Oleh karena itu, hubungan “kekeluargaan” kerap tampak dalam persitindakan (interaksi) masyarakat desa.
Pengembangan kesenian sebagai ungkapan budaya perlu diusahakan agar mampu menampung dan menumbuhkan daya cipta para seniman, meningkatkan apresiasi seni masyarakat, memperluas kesempatan masyarakat untuk menikmati seni budaya bangsa serta membangkitkan semangat dan gairah membangun. Dalam hubungan ini kesenian daerah perlu dipelihara dan dikembangkan untuk kelestarian dan memperkaya keragaman budaya bangsa Indonesia. Bagi para budayawan termasuk seniman yang berprestasi perlu diberikan penghargaan. Tradisi dan peninggalan sejarah yang memberi corak khas kepada kebudayaan bangsa serta hasil-hasil pembangunan yang mempunyai nilai perjuangan bangsa, kebangsaan dan kemanfaatan nasional perlu dipelihara dan dibina untuk menumbuhkan kesadaran sejarah, semgat perjuangan dan cinta tanah air serta memelihara ke-lestarian budaya dan kesinambungan pembangunan”.
Begitu banyak jenis hasil olah budi dan daya masyarakat Indonesia. Di antaranya adalah benda-benda yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari hampir semua lapisan masyarakat. Kini, benda-benda tersebut sebagian telah mulai tersisih karena masuknya hasil olah budi dan daya milik masyarakat lain, masyarakat asing. Merebaknya pemakaian bahan plastik menjadi salah satu kendala berat dalam masalah lingkungan maupun masalah keberadaan benda-benda rumah tangga buatan masyarakat kita sendiri.
Salah satu jenis hasil olah budi dan daya masyarakat kita yang --di antaranya-- mulai tersisih oleh budaya plastik adalah bungkus makanan. Begitu banyak jenis dan cara membungkus makanan yang telah ditemukan oleh masyarkat pendahulu kita. Begitu banyak jenis bahan alam, terutama daun, yang pada kenyataannya memberi aroma khas kepada makanan, kini digantikan oleh bahan plastik. Salah satu kekayaan budaya kita ini belum banyak disentuh pendokumentasian.
- Seni Ekonomi
Kaitan seni dengan masalah ekonomi, bagi sejumlah seniman, pengajar seni, ahli teori seni, adalah sebuah pertalian yang “aneh”. Padahal, begitu banyak bukti yang bisa diperhatikan, bagaimana akhirnya pemerintah Indonesia lebih mengandalkan ekspor nonmigas (di antaranya lebih banyak berupa ekspor barang-barang kriya) untuk mengganti ekspor migas yang sudah tak bisa diharapkan hasilnya.
Memroduksi benda kriya, bagi sebagian warga Ubud sebagai contoh, lebih menjanjikan banyak keuntungan materi dibanding menanam padi atau sayuran. Untung yang bisa didapat secara musiman dari hasil sawah dan kebun kurang begitu berarti jika dibandingkan dengan untung hasil mengolah benda-benda cinderamata. Lahan kerja bagi warga masyarakat menjadi semakin luas. Masyarakat kriya wan Bali, pemroduk bendabenda “seni remeh” ini, masih menempati posisi peringkat dua, tiga, bahkan keempat dalam menikmati jumlah keuntungan. Kelompok pertama adalah para penjual langsung di mancanegara, yaitu para wisatawan asing yang memiliki modal. Para “bule” itu memesan bentuk-bentuk benda tertentu kepada kriyawan Ubud. Hasilnya mereka bawa ke negaranya. Sekalipun demikian, para pekriya Bali telah menempati posisi yang lebih baik di antara masyarakat Bali yang lainnya.
Fungsi Seni Secara Individu
- Kegiatan Seni dan Kebutuhan Ekspresi
Seni adalah ungkapan jiwa. Pernyataan itu kerap didengungkan para teoretisi seni. Oleh karena definisi tersebut, seni yang “asli, murni”, adalah “kegiatan pengungkapan jiwa yang bersih, tidak diembel-embeli kebutuhan lain”. Tentu saja definisi tadi hanya ungkapan selingkung, berlaku pada zaman dan kondisi tertentu. Tidak banyak seniman yang berkarya hanya untuk menjunjung tinggi nilai seni yang --katanya-- sangat adiluhung itu.
Kalau diperiksa secara teliti, para kriyawan di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, kini tengah sibuk memproduksi model karya yang merupakan pesanan para maesenas baru: ekonom seni dari mancanegara. Ada hiasan dengan motif bentuk matahari, patung-patung gaya Asmat, benda-benda yang terbuat dari bahan metal yang beragam, semuanya berangkat dari bentuk-bentuk benda kriya yang bukan dari lingkungan Gianyar. Berbagai alasan ekonomis terkait dengan keberadaan tadi. Peran pemilik modal sangat kentara.
Berkesenian, termasuk di dalamnya aneka kegiatan seni rupa, adalah memenuhi kebutuhan dasar kemanusiaan.Sejak awal keberadaannya, manusia telah begitu lengket dengan kebiasaan-kebiasaan dasar yang kemudian berkembang menjadi kegiatan seni. Oleh karena itu, ketika seni dianggap sebagai kebutuhan ekspresi, seni itu hanyalah media, alat ungkap ekspresi seseorang. Ketika kegiatan seni kemudian mengusung kebutuhan dan tujuan lain, selain ekspresi, hal itu syah saja terjadi. Kita mesti percaya, sekalipun seseorang menggubah karya untuk ekbutuhan ekonomi, di dalam karya tersebut tetap akan ada unsur ekspresi sebagai dasar kegiatan berkarya.
- Seni Individual
Manusia adalah mahluk individu di samping sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk individu, manusia diciptakan oleh Allah dalam kondisi yang unik. Tidak ada satu individu pun yang memiliki kesamaan dalam segala hal, sekalipun manusia itu dilahirkan dalam keadaan kembar siam. Sebagai mahluk individu, manusia dianugerahi ke-mampuan memilih, menyatakan kehendak, bercita-cita, dan ciri-ciri kemanusiaan lainnya. Ada semenara orang yang beranggapan bahwa dalam dunia kesenian seseorang bisa memiliki kebebasan penuh da-lam mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Oleh karena itu, dari pemertahanan sifat individual manusia itu akan muncul karya seni rupa yang lebih berciri individu.
Seni modern mengacu nilai-nilai kebaruan, keaslian, dan kreativitas. Nilai kebaruan merupakan pengaruh langsung dari sifat sains yang memiliki prinsip terus berubah, bersifat material, dan terindera. Nilai keaslian melahirkan individualitas. Nilai kebaruan dan keaslian tersebut menuntut kreativitas yang tinggi kepada para seniman. Seniman zaman modern melakukan pencarian tanpa henti dalam menemukan sesuatu yang “baru” dan “asli”. Kebebasan kreatif merupakan yang diagung-agungkan oleh seniman zaman ini. Salah satu akibat buruknya, seniman menjadi terasing dari masyarakat, karena masyarakat umum tidak bisa mengimbangi kebebasan penjelajahan seniman.
Komentar
Posting Komentar