Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

PROSES KREATIF

PROSES KREATIF     Batasan Bahasan Proses Kreasi    Proses kreasi pada dasarnya melewati jalan dan cara yang sama, dan dari sumber utama yang sama. Bahkan, menurut pengakuan sejumlah orang yang mengalaminya, cara proses itu berlangsung menggambarkan hal yang sama. Ada suatu kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan penggubahan. Dorongan itu sangat kuat. Pada orang-orang tertentu, dorongan tersebut bisa mengganggu jaga dan tidurnya. Dan, ketika seseorang sedang menuruti dorongan tersebut, yaitu menyatakan dorongan dalam bentuk karya, ada ‘bimbingan gaib’ yang mengarahkan semua kehendak orang tersebut untuk menggubah sesuatu. Lahirlah karya-karya.    Dalam dunia sastra, menurut pengakuan Sunaryono Basuki Ks, ketika pengarang sedang mengikuti “petunjuk”, si pengarang hanyalah sebagai alat. Kekuatan petunjuk itulah yang kemudian menggerakkan pena atau jemari pengarang untuk menghasilkan sebuah karya. Katakanlah sebuah novel. Aliran cerita yang menyungai seol...

Beyond The Major Art

Beyond The Major Art     Komik  (Bagian dari laporan penelitian I Wayan Nuriarta tentang Komik Naruto)    Istilah komik berasal dari bahasa Inggris comic yang berarti cerita atau buku komik, yang bersifat gembira (Echols dan Shadily, 1990:129), cerita bergambar yang lucu (Wojowasito, 1985;75). McCloud (2001) dalam buku Understanding Comics yang unik, karena disusun dalam gaya penceritaan buku komik, gambar-gambar serta  lambang-lambang dan narasi disusun sebagaimana dalam sebuah format buku komik (McCloud, 2001;9)     Pada dasarnya, komik  merupakan karya seni perpaduan antara seni rupa dengan karya sastra, yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk visual atau gabungan bentuk visual dengan keterangan verbal. Oleh karena itu komik sering dianggap sebagai karya sastra bergambar, dan untuk   membedakan komik bersambung dengan komik lengkap, ungkapan Ingris Co-mic-strips dan Comic-book praktis untuk digunakan karena tidak menimbulkan keka...

IHWAL KARYA SENI RUPA ‘REMEH’

IHWAL KARYA  SENI RUPA ‘REMEH’     Karya Seni Rupa “BEYOND THE PURE ART”          Banyak karya seni rupa yang tidak mendapat perhatian khusus dari para teoretisi seni rupa. Hal itu dikaitkan dengan anggapan bahwa karya-karya tersebut dianggap bukan karya adiluhung, yang menggambarkan latar belakang pemikiran akademisi. Karyakarya seni rupa jenis ini dianggap sebagai karya seni remeh (meminjam istilah yang biasa digunakan mengingatkan secara teoretis oleh Prof. Sudjoko), yaitu karya-karya yang dibuat oleh para pedesa (ini juga istilah yang sama dari Prof. Sudjoko). Para pekota, “lawan” pedesa, telah membangun gap theory yang membentengi lingkaran teori seni rupa akdemis-otodidak. Tudingan para pekota selalu terarah kepada nihilnya nilai estetis karya para pedesa, dan dalam pandangan mereka, pekerjaan para pedesa tidak pernah terorganisir secara teoretis-akademis.          Ketika para pekota di Barat beranggapan bahwa seni utama ...